Kamis, 06 Mei 2010

Bid'ah dan Tasyabbuh Disekitar Umat Islam Bagian Pertama

Salah satu problem keagamaan semenjak Islam berkembang ke luar Jazirah Arabia sampai dewasa ini adalah bagaimana menyikapi ketegangan antara keyakinan agama (teologis) dan tradisi kebudayaan lokal (sosiologis). Sebagian kalangan cenderung menolak mentah-mentah apa pun yang dianggap "bukan bagian dari agama" sehingga muncul gerakan purifikasi (pemurnian) agama. Umumnya gerakan “radikal” keagamaan berawal dari kecenderungan ini, disamping ada upaya rekayasa (makar) dari sekelompok orang yang tidak menginginkan kemajuan Islam. Dan sayang, gerakan purifikasi agama “radikal” cenderung mengambil jalan kekerasan dan tidak toleran terhadap sistem etika, apalagi sistem keagamaan di luar dirinya.
Sepanjang sejarah, keberagamaan seseorang muslim senantiasa mengalami dialektika antara diri dan lingkungan (budaya). Setiap manusia, hatta seorang puritan sekalipun, pasti pernah mengalami proses menyerap apa yang ada di luar dirinya. Sulit dipahami bila ada orang yang menganggap dirinya telah beragama secara "murni", dalam pengertian tidak dipengaruhi kondisi lingkungannya. Klaim bahwa seorang puritan bebas TBC (taqlid, bid’ah, "churafat") dan “SEPILIS” (sekulerisme, pluralisme) tidaklah selalu benar dalam kenyataannya. Apakah ada manusia sosial yang benar-benar lepas dari proses taqlid? Adakah orang yang benar-benar lepas dari proses perubahan dan inovasi? Apalagi dalam kehidupan sosial, proses akulturasi budaya hampir dipastikan berpengaruh besar dalam membentuk kehidupan sosial baru tak terkecuali dalam pelaksanaan keagamaan tidak lepas dari proses penetrasi budaya (Tasyabbuh).
Bid’ah dan Tasyabbuh adalah dua fenomena dikalangan umat yang tak akan habis untuk diperbincangkan sepanjang Islam masih bersemayam dalam jiwa manusia. Ikhtilaf persoalan Bid’ah dan Tasyabbuh dikalangan umat, umumnya terjadi karena perbedaan sudut pandang. Seperti perdebatan dalam masalah prespektif bid’ah dikarenakan adanya dua pendekatan yang berbeda, antara yang menggunakan pendekatan etimologis (kebahasaan) dan epistemologis (syari’at). Pendekatan etimologis sifatnya lebih global sehingga lebih melunak dalam mensikapi bentuk bid’ah, karena menurut pendekatan ini, bid’ah adalah ungkapan untuk sebuah inovasi dalam bentuk apapun, termasuk dalam aspek syari'ah. Sehingga, mereka menyatakan adanya bid’ah yang baik dan bid’ah yang kurang baik. Sementara yang memahami bid’ah dengan menggunakan pendekatan epistemologis, menyatakan keberatannya semua bentuk bid’ah dalam aspek ibadah, karena pendekatan epistemologis, lebih mengacu pada aspek syari'ah. Artinya bid’ah yang dimaksudkan dalam Hadits Nabi adalah segala bentuk inovasi dalam hal ibadah atau praktek keagamaan yang tidak pernah dipraktekan oleh Nabi. Sehingga kelompok ini menyatakan keberatannya terhadap bentuk dan segala macam bid’ah karena dianggap menyimpang dari ajaran agama (Islam).
Sedangkan persoalan Tasyabbuh dikalangan umat akan lebih komplek, sebab persoalan Tasyabbuh tidak saja masuk dalam ranah keagamaan semata, namun menyangkut dimensi yang lebih luas dalam kehidupan manusia. Jadi akan sangat sulit kita menerima pandangan seseorang yang dirinya mengaku bebas tasyabbuh, kecuali jika sekelompok orang yang benar-benar terisolasi sehingga tidak pernah berinteraksi sosial dengan dunia luar. Persoalannya Islam bukanlah agama “tirai bambu" , bukan pula agama “sinkretis”, namun Islam adalah agama “wasathan”, pertengahan (tidak kaku dan tidan bebas), agama yang toleran, elegan namun teguh pada prinsip-pripsip dasar yang haq.
Namun demikian, bid’ah dan Tasyabbuh menjadi nubuwah akhir zaman yang harus menjadi perhatian umat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Sayang secara normatif, Nabi tidak menjelaskan secara eksplisit pemaknaan dari kedua istilah itu, sehingga wajar jika dikalangan umat terjadi perbedaan dalam memahami kedua istilah tersebut. Namun keduanya akan menjadi rahmat sepanjang umat mensikapinya secara arif dan bijaksana. Dalam artian perspektif mengenai bid’ah dan Tasyabbuh berada dalam koridor ijtihad, yang memungkinkan menghasilkan ijtihad yang benar dan mungkin salah. Jadi yang paling arif mensikapi fenomena bid’ah dan Tasyabbuh adalah memiliki pemahaman yang benar terhadapnya dengan kadar ilmal-yaqin (keyakinan ilmu), kemudian berhati-hati dengannya, bukan melakukan tahkim (memberikan hukum) kepada setiap orang dan menganggap diri “clear” dari keduanya.
Dan secara eksplisit, bid’ah dan Tasyabbuh keduanya adalah “virus” yang banyak menghancurkan generasi umat akhir zaman, Hal itu selaras dengan apa yang telah di sabdakan Nabi :
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي خُطْبَتِهِ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ يَقُولُ مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
Dari Jabir ibn Abdullah berkata: Adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda dalam khutbahnya, setelah dia memanjatkan hamdalah dan memuji-Nya dan kebaikan bagi keluarganya, kemudia beliau bersabda:” Barang siap yang Allah beri petunjuk maka tidak ada yang dapat menjadikan dia tersesat, dan barang siapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang mampu memberi petujuk kepadanya, sesungguhnya sebenar-benarnya perkataan adalah kitabullah (al-Qur’an) dan sebaik-baiknya petunjuk adalah apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad, dan sejelek-jeleknya urusan adalah perkara-perkara yang baru dalam agama, dan setiap perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka ( H.R Ashab Sunan)
عن أَبِي سَعِيدٍ الْخدْرِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، قَالَ: لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ: فَمَنْ
"Sungguh diantara kalian akan mengikuti apa-apa yang dilakukan bangsa-bangsa terdahulu, selangkah demi selangkah, sehasta demi sehasta walau pun mereka memasuki lubang biawak kamu akan mengikuti mereka". Diantara para sahabat ada yang bertanya "Ya, Rasululah apakah yang dimaksud (di sini) adalah pemeluk agama Yahudi dan Nashrani?" Rasulullah menjawab "Siapa lagi (kalau bukan mereka) (HR. Bukhari)

Makna bid’ah
Secara etimologis, bid’ah berarti ungkapan untuk suatu hal baru yang diciptakan tanpa ada contohnya, atau belum pernah ada atau dilakukan sebelumnya.[1] Makna kata bid’ah semacam itu ditemukan di dalam ayat al Qur'an yang berbunyi;
بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْراً فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ
Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah". Lalu jadilah ia. (QS al-Baqarah 2:117)
Atau dalam ayat lain ;
قُلْ مَا كُنتُ بِدْعاً مِّنْ الرُّسُلِ وَمَا أَدْرِي مَا يُفْعَلُ بِي وَلَا بِكُمْ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ وَمَا أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ مُّبِينٌ
Katakanlah: "Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan".(QS Al-Ahqaf 46 :9)
Secara epistemologis, bid’ah dalam Islam seringkali dikonotasikan dalam arti yang negatif, yaitu sebutan untuk segala hal baru dalam agama, mencakup ibadah, adat istiadat dan dogma, yang belum pernah dipraktekkan oleh Nabi sebelumnya.[2] Atau, dalam penafsiran yang minimal, inovasi dalam ritual atau kepercayaan agama. Jadi inti konsep bid’ah adalah suatu praktek yang tidak ada contohnya dalam praktek Nabi atau Sahabatnya dan dijadikan sebagai bagian dari ajaran agama, dilakukan untuk mendapatkan pahala.[3]
Secara normatif, istilah bid’ah dalam Islam merujuk pada beberapa Hadits Nabi, di antaranya adalah yang diriwayatkan oleh Abu Daud;
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ وَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Aku berwasiat kepada kalian, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah, dengarkan dan ta’atilah seandainya ada kewajiban atas kalian, sebab suatu saat akan terjadi suatu pertentangan yang besar tentang agama, maka kalian (umat islam) hendaklah teguh dengan sunnahku, sunnah para khalifah yang terpilih, maka peganglah sunnah itu kuat-kuat oleh kalian, dan berhati-hatilah kalian terhadap perkara yang baru, sebab setiap bid’ah adalah kesesatan.
Di dalam Hadits lain juga disebutkan bahwa seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, sesuatu yang diada-adakan adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap yang sesat tempatnya di neraka.
وشر الامور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار
Sejelek-jeleknya perkara (dalam agama) adalah hal-hal yang baru, dan setiap hal yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap yang sesat tempatnya di neraka (H.R Nasa’i)
Terdapat perbedaan pendapat di antara ulama' dalam mendefinisikan bid’ah. Imam al-Syafi'i mengatakan bahwa bid’ah ialah segala hal baru yang terdapat setelah masa Rasululah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan khalifah yang empat (Khulafa' al-Rashidin). Izzuddin bin'Abd al-Salam, ahli fiqh madzhab Syafi'i mendefinisikan bid’ah sebagai segala perbuatan yang belum dikenal pada masa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Menurut Ibn Rajab al-Hanbali, ahli fiqh madzhab Hanbali, bid’ah adalah segala hal baru yang tidak ada dasar syari'atnya. Imam al-Shatibi, ahli fiqh madzhab Maliki mengatakan bahwa bid’ah adalah suatu cara yang diciptakan menyerupai syari'at dalam agama dan dilakukan dengan niat ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.[4]
Semua ulama' sepakat bahwa bid’ah dalam wilayah syari'at adalah perbuatan terlarang dalam agama. Alasannya berdasarkan Hadits Nabi yang berbunyi:
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ ». رَوَاهُ الْبُخَارِىُّ
Barang siapa mengada-ngada urusan baru dalam agama ini, yang tidak kami ajarkan maka akan tertolak (H.R Bukhari)
Pernyataan al-Qur'an yang biasanya dikutip dalam konteks ini dan menjadi alasan di balik pelarangan bid’ah tersebut, adalah Firman Allah yang berbunyi
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً
hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan telah Aku ridlai Islam sebagai agamamu. (QS Al-Ma’idah 5:3)
Akan tetapi para ulama' berbeda pendapat dalam menentukan batas-batas bid’ah. Berdasarkan definisi yang telah dikemukakan oleh masing-masing ulama di atas, pengertian bid’ah dapat dibedakan antara bid’ah yang lebih mengacu pada aspek kebahasaan dan bid’ah yang lebih mengacu pada aspek syari'at.[5]
Kelompok yang mengacu pada aspek kebahasaan membagi bid’ah menjadi dua; bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) atau bid’ah mahmudah (bid’ah yang terpuji) dan bid’ah sayyi'ah (bid’ah yang buruk) atau bid’ah madhmûmah (bid’ah yang tercela). Sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam al-Shafi'i, bahwa bid’ah hasanah atau mahmudah adalah bid’ah yang sesuai dengan tujuan syara' meskipun tidak diperbuat oleh Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, sementara bid’ah sayyi'ah atau madhmûmah adalah bid’ah yang tidak sesuai dengan tujuan syara'. Pemahaman semacam ini mengacu pada sikap Umar bin al- Khattab (Khalifah II) yang melakukan inovasi dalam shalat tarawih pasca wafatnya Nabi, dan ia mengatakan: “ni’mat al bid’ah hadhihi” (sungguh ini bentuk bid’ahyang sangat mulia), Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut;
فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ : نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ ، وَالَّتِى يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِى يَقُومُونَ. يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ ، وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِى أَوَّلِهِ .رَوَاهُ الْبُخَارِىُّ
Maka Umar r.a berkata kepadanya (Abdurahman ibn Abdul Qariy), sungguh ini bentuk bid’ah yang sangat mulia, sedangkan orang yang mengerjakan shalar tarawih akhir malam lebih utama dari yang awal malam, namum kebanyakan manusia memilih mengerjakannya pada awal malam (H.R Bukhari)
Pemahaman semacam ini juga didukung oleh pemahaman terhadap hadits Nabi yang berbunyi:
مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ
Barangsiapa yang melakukan tradisi positif, dan diikuti oleh generasi berikutnya, maka baginya adalah pahala atas tradisi itu, dan pahala dari orang yang mengikuti inovasi positif itu dengan tidak dikurangi sedikit pun dari padanya. (H.R Muslim)
Adapun kelompok yang berpegang pada aspek syari'at membagi bid’ah menjadi dua bentuk pula; bid’ah 'âdiyah (bid’ah dalam kehidupan sehari-hari) dan bid’ah ‘ubûdiyyah (bid’ah dalam ibadah). Bid’ah 'âdiyah adalah kebiasaan duniawi yang telah diserahkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam kepada umatnya untuk dilaksanakan atau ditinggalkan, seperti sabdanya:
أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ
Kalian lebih paham terhadap urusan duniawi (H.R Muslim)
Sementara bid’ah 'ubudiyah adalah kegiatan yang menyangkut ibadah, seperti berkumpul bersama pada hari keempat puluh setelah kematian seseorang untuk membaca al-Qur'an guna meminta berkah Tuhan atas orang yang sudah meninggal. Kelompok yang membagi bid’ah menjadi 'adiyah dan 'ubudiyah ini menyatakan keberatannya terhadap praktik semacam itu karena sama sekali baru; jika praktik itu berguna, tentunya dapat ditemukan contohnya dalam Sunnah Nabi dan para sahabatnya.[6]
Pelarangan proto-inovasi itu bertujuan untuk menghindari kemungkinan diubahnya praktik keagamaan dengan adanya penambahan atau pengurangan yang bisa menimbulkan pada terjadinya perubahan. Di antara yang tidak setuju dengan praktek semacam ini adalah Ibn Taymiyah, dengan dasar hadits Nabi yang berbunyi:
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ ». رَوَاهُ الْبُخَارِىُّ
Barang siapa mengada-ngada urusan baru dalam agama ini, yang tidak kami ajarkan maka akan tertolak (H.R Bukhari)
Jadi persolan bid’ah tergantung dari sudut pandang mana seseorang melihat, yang jelas, semua sepakat bahwa bid'ah yang dilarang dalam agama (haram) adalah melakukan inovasi yang bertentangan dengan dasar-dasar ajaran agama baik dalam urusan dunia maupun ibadah. Apakah dengan menggenapkan dari sesuatu yang ganjil atau mengganjilkan sesuatu yang genap atau dengan istilah sosialnya adalah koruptor.
Nubuwat Bid’ah
Bid’ah yang dimaksud disini adalah bid’ah yang memiliki lawan sunnah. Yang dimaksud Sunnah disini adalah segala sesuatu yang perbuatan, perkataan, dan ketetapan dalam agama Islam yang bersumber langsung dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Jadi bid’ah adalah segala perbuatan, perkataan dan ketetapan dalam agama islam yang tidak bersumber langsung kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Hal ini sebagaimana disebut dalam hadits;
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ ». رَوَاهُ الْبُخَارِىُّ
Barang siapa mengada-ngada urusan baru dalam agama ini, yang tidak kami ajarkan maka akan tertolak (H.R Bukhari)
Dengan pendekatan bid’ah seperti ini, maka siapa pun tidak berhak untuk membuat syari’at baru dalam Islam selain apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Oleh karenanya, meskipun syari’at itu datang dari seorang sahabat Rasul, maka kita tidak ada kewajiban untuk melaksanakannya sebaliknya kita mesti menolaknya. Salah satu contohnya adalah pelaksanaan shalat berjama’ah qiyamul lail pada bulan Ramadlan (shalat tarawih) yang bersumber kepada pendapat Umar ibn Khattab, dipandang sebagai suatu bid’ah, sebab Nabi tidak melaksanakannya dan tidak memerintahkannya. Shalat tarawih berjama’ah pada awal waktu terjadi pada zaman khalifah Umar ibn Khattab, sebagaimana hadits berikut;
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِىِّ قَالَ : خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِى رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّى الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّى الرَّجُلُ فَيُصَلِّى بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ ، فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ : وَاللَّهِ إِنِّى لأَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ. ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ : ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى ، وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ ، فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ : نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ ، وَالَّتِى يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِى يَقُومُونَ. يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ. رَوَاهُ الْبُخَارِىُّ
Dari Abdurahman ibn ‘Abd al-Qari’ berkata: Saya pernah keluar bersama Umar ibn Al-Khattab pada suatu malam bulan Ramadlan melewati sebuah mesjid. Pada saat itu kaum muslimin shalat (tarawih) bercerai berai antara satu dengan yang lainnya membentuk kelompok-kelompok, berkata Umar ibn Khattab r.a;” Demi Allah, kalau menurut pendapatku alangkah baiknya kalau shalat tarawih itu dipimpin oleh satu imam saja, Kemudian beliau mengumpulkannya dan beliau menyuruh Ubay ibn Ka’ab. Dan berkata (Abdurahman /perawi) kemudian aku keluar pada malam lainnya, dan kaum muslimin tetap sholat dengan berjama’ah, maka berkata Umar ibn Khattab r.a :” sebaik-baiknya bid’ah adalah ini”!, sedangkan orang-orang yang mengakhirkan shalat malam lebih utama dari pada orang yang shalat tarawih awal malam, namun kebanyakan manusia lebih memilih awal malam dalam melaksanakan shalat malam. (H.R Bukhari)
Dari hadits tersebut, menurut kaidah al-naqd (kritik hadits), dipandang lemah hal ini dapat disorot pada dua hal; yang pertama dari segi sanad hadits tersebut tergolong hadits mauquf yakni yang sanadnya hanya sampai pada shahabat (Umar ibn Khattab) walaupun diriwayatkan oleh al-Bukhari, sedangkan yang dari segi matan, dianggap lemah karena tidak bersandar kepada perbuatan Rasullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Dalam arti berjama’ahnya salat tarawih merupakan ijtihad dari Umar ibn al-Khattab. Sedangkan ijtihad dalam urusan ibadah adalah sesuatu yang tercela sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits,
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم : الْقَصْدُ فِي السُّنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الاِجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ.
“Berpegang teguh pada sunnah (Rasulullah) lebih baik dari pada berijtihad dalam bid’ah ”. (H.R Al-Hakim)
bid’ah dan sunnah adalah ibarat dua sisi mata uang yang berbeda, keduanya muncul tidak berbarengan, artinya jika yang muncul adalah bid’ah, maka sunnah akan hilang. Begitu pula jika muncul sunnah maka bid’ah akan hilang. Sebagimana diriwayatkan dari Ibnu Abas r.a
لا يذهب من السنة شىء حتى يظهر من البدعة مثله حتى تذهب السنة وتظهر البدعة
“Tidaklah suatu sunnah itu hilang, kecuali akan muncul bid’ah sebagi penggantinya, sehingga mapanlah yang bid’ah itu dan terkuburlah sunnah”
Maka dalam pelaksanaan syari’ah, akan ada dua alternatif yang dilakukan oleh seseorang, apakah dia akan berusaha melaksanakannya sejalan dengan sunnah Rasulullah, atau “berijtihad” (bid’ah) dan melaksanakan “ijtihad”nya yang kadang mengikuti keinginan manusia atau suatu kelompok manusia. Barang siapa yang berbuat mengikuti sunnah Rasul maka dia akan mendapat petunjuk, sedangkan barang siapa yang memaksakan dan mapan dengan perbuatan bid’ah maka dia akan sesat, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits,
فَإِنَّ لِكُلِّ عَابِدٍ شِرَّةً وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةً فَإِمَّا إِلَى سُنَّةٍ وَإِمَّا إِلَى بِدْعَةٍ فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّةٍ فَقَدْ اهْتَدَى وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ
“Sesungguhnya setiap yang beribadah itu akan berusaha melaksanakanny, dan setiap yang berusaha akan mapan melaksanakannya apakah pada sunnah atau pada bid’ah. Maka barang siapa yang mapannya dalam sunnah maka dia akan mendapat petunjuk dan barang siapa yang mapannya dalam bid’ah maka dia akan celaka (sesat) ”. (H.R Ahmad)
Adapun bentuk-bentuk kecelakaan dan kesesatan dari pelaku bid’ah itu antara lain;

1. Dia akan ditemani syaitan (jin kafir) dalam setiap ibadahnya
من عمل ببدعة خلاه الشيطان فى العبادة وألقى عليه الخشوع والبكاء
“Barang siapa berbuat bid’ah, maka dia akan disertai syaitan dalam ibadahnya dan dijauhkan darinya kekhusyuan dan kesyahduan”. (H.R Dailamy)
2. Dilaknat oleh Allah, malaikat dan manusia seluruhnya
من غش أمتى فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين قالوا يا رسول الله وما الغش قال أن يبتدع لهم بدعة فيعمل بها
Barang siapa yang memipu umatku maka baginya laknat Allah dan malaikat serta manusia seluruhnya, para shahabat bertanya ya! Rasulullah siapa yang menipu itu, Rasul menjawab:” dialah yang membuat bid’ah bagi mereka dan melaksanakanbid’ah itu.” (H.R Thabrani)
3. Tidakakan bersanding dengan baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam kelak diakhirat
من أحيا سنتى فقد أحبنى ومن أحبنى كان معى فى الجنة
Barang siapa yang menghidupkan sunnahku, maka dia telah mencintaiku, barangsiapa yang mencintaiku maka dia akan bersamaku disyurga. (Riwayat al-Sajziy dari Anas)
4. Mendapat dosa dari manusia yang mengikuti perbuatan bid’ahnya
مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِي ، فَإِنَّ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنَ النَّاسِ لا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ ، وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةً لا تُرْضِي اللَّهَ ورَسُولَهُ ، فَإِنَّ لَهُ مِثْلَ إِثْمِ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنَ النَّاسِ لا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِ النَّاسِ شَيْئًا
Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku yang telah mati setelah kematianku maka baginya pahala sebesar orang yang mengerjakan sunnah itu tanpa dikurangi sedikit pun dari pahala mereka. Dan barang siapa yang mendatangkan bid’ah maka Allah dan Rasul-Nya tidak akanridha kepadanya dan dia dapat dosa dari dosanya orang yang melakukan bid’ahnya tanpa dikurangi sedikit pun”. (H.R Ahmad)
5. Amal sholehnya tertolak
إن الله تعالى لا يقبل لصاحب بدعة صوما ولا صلاة ولا صدقة ولا حجا ولا عمرة ولا جهادا ولا صرفا ولا عدلا حتى يخرج من الإسلام كما تخرج الشعرة من العجين
“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan menerima dari pelaku bid’ah ; shaum, shalat, haji, umrah, jihad, amalah fardhu,amalan sunnah sampai dia keluar dari Islam sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya ”. (H.R Dailamy)
Dilihat dari sumbernya bid’ah, ada dua sumber yang umumnya dijadikan sebagai bentuk perbuatan bid’ah;

1. Tasyabbuh yakni meniru atau mengikuti praktek-praktek keagamaan baik dari agama samawi (Yahudi dan Nasrani) maupun agama-agama budaya. Atau berasal pula dari adat istiadat/budaya yang dimasukan dalam bentuk peribadatan atau dijadikan syari’at dan berkeyakinan bahwa itu bagian dari Islam.
2. Murni sebagai inovasi terhadap syari’at baik dengan menambah atau mengurangi suatu ajaran yang telah ditetapkan.
Sedangkan penyebab terjadinya bid’ah dikalangan umat diantaranya;
1. Tahrif (penyimpangan) ajaran agama Islam oleh kelompok orang-orang kafir, fasik, munafik. Bentuk ini termasuk katagori makar yang sistemik dan sistematik yang dilakukan oleh organisasi tertentu.
2. Sikap ghuluw (berlebihan) didalam beragama, merasa bahwa syari’at belum sempurna dan menurut pikirannya perlu disempurnakan baik dengan menambah atau mengurangi suatu syari’at. Sikap ini telah banyak membinasakan penganut agama samawi sebelumnya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits,
إ
ِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّينِ
Janganlah kalian bersikap berlebih-lebihan dalam agama, sebab sikap seperti itu telah membinasakakan orang-orang sebelum kalian. (H.R Ahmad)
3. Jahalah (kebodohan), yakni pemahaman yang keliru terhadap agama karena kurangnya pengetahuan tentang agama (tafaquh fiddin).
يَرِثُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ يَنْفُونَ عَنْهُ تَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ وَتَحْرِيفَ الْغَالِينَ
Ilmu ini (tentang syari’at) akan dibawa pada setiap generasi oleh orang-orang adil, mereka ini akan membersihkannya dari penafsiran kaum jahil, pengrusakan kaum konspirator, dan peyimpangan orang ghuluw”. (H.R Baihaqi)
Kaidah-Kaidah Dasar
Untuk menentukan suatu praktek bid’ah atau bukan, ada beberapa kaidah yang dapat dijadikan patokan antara lain;

1. Sesuatu perkara syari’at yang tidak memiliki dasar hukum yang tegas dan jelas baik dari Al-Qur’an maupun Al-hadits shahihah. Untuk meneliti atau mencari dasar hukum terutama dari al-hadits dapat mengunakan program digital computer seperti maktabah syamilah versi.11 yang memuat kurang lebih 108 kitab hadits dari 6250 kitab berbahasa Arab.
2. Suatu perkara syari’at yang bersumber dari dalil yang lemah atau hadits dhaif sekali terutama hadits-hadits maudhu (palsu), mursal, dan tidak mencapai marfu’.
3. Perkara yang masih dipertentangkan dikalangan fuqaha tidak termasuk kedalam bid’ah sepanjang masih memiliki dalil-dalil yang dapat dipertanggung jawabkan.
4. Suatu perkara yang sudah jelas-jelas perbuatan atau prilaku keagamaan diluar Islam.
5. Menghindari taqlid buta atau ikut-ikutan terhadap sesuatu dalam keagamaan tanpa adanya alasan atau tanpa kritik. Setidanya hendaklah menjadi seorang muttabi, mengikuti disertai dengan alasan/dalil. Taqlid umumnya kepada mayoritas, padahal mayoritas tidak selamanya mempersentasikan kebenaran, bahkan bisa jadi mayoritas bisa mengelabui seseorang dalam kebenaran, sebagaimana disebut dalam surat al-An’am ayat 116
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).(Al-An’am :116)
Maka sifat arif dalam menghadapi persoalan agama adalah bertanya kepada orang yang memiliki kapasitas keilmuan agama (ahlu dzikri) jika kita tidak memahami urusan suatu agama,
فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, (Al-Nahl:43)
Bid’ah adalah bentuk syirik
Tidak diragukan lagi bahwa perbuatan bid’ah dalam syari’ah digolongkan kepada perbuatan syirik karena membuat tandingan syari’ah baru baik dengan menambah maupun mengurangi syari’at. Atau dalam kata lain mencampur adukan antara al-haq dan al-batil. Dan prilaku seperti ini kebayakan dilakukan oleh manusia mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk, sebagaimana yang disebutkan dalam QS al-Jatsiyah 45:23 dan ditegaskan dalam surat Yusuf ayat 106 sebagai syirk.
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS al-Jatsiyah 45:23)
وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللّهِ إِلاَّ وَهُم مُّشْرِكُونَ
Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). ( QS Yusuf 12:106)
Referensi:
[1] Ibn al-Jawzi, Talbis Iblis (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah 994), 24. atau al-Shatibi, al I'tisam (Beirut: Dar al Kutub al Ilmiah, 1991), 27.
[2] Ensiklopedi Hukum Islam (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996), Jilid I, 217
[3] Muhammad ‘Abd al Salam al Shaqiri, al Sunan wa al Mubtada’at (Beirut: Dar al Kutub al Ilmiah, 1994), 17. bisa dilihat juga dalam Ali Mahfuz, al Ibda’ fi Madar al Ibtida’ (Kairo: Dar al I’tisam, t.t.), 26. atau al-Shatibi, al I’tisam, 28.
[4] Abdul Aziz Dahlan (ed.) Ensiklopedi Hukum Islam, Vol. I (Jakarta: Ichtiar Baru, 2001), 217-218.
[5] Ali Mahfuz, al Ibda’ fi Madar al Ibtida’, 38-39.
[6] Ali Mahfuz, al Ibda’, 28.

Berbangga Dengan Mayoritas


Ketika anda dalam perjalanan dan berada dipadang pasir, mana yang anda akan pilih? Satu teguk lagi air sisa dalam botol atau anda akan berlari mengejar “hamparan air” dihadapan anda yang nampak jernih dan dingin. Jika anda termasuk yang memiliki kesadaran, anda akan memilih satu teguk air terahir yang berada dalam botol dari pada lari untuk mengejar “hamparan air” didepan anda. Satu teguk air adalah “riil” sedangkan “hamparan air” adalah “ilusi” karena dia adalah fatamorgana. Tapi sekali-kali tidak, jika kesadaran anda tertutup oleh hawa nafsu maka anda akan mengejar yang “ilusi” dan meninggalkan yang “riil” yang tentu saja kejadiannya akan lebih tragis anda akan menderita kehausan yang luar biasa dari kehausan sebelumnya, bahkan mungkin ajal anda segera menjemput anda.
Fenomena dialektis antara yang riil dan ilusi dalam kehidupan manusia adalah niscaya dan manusia harus melaluinya. Istilah “riil” dan “ilusi” dalam tinjauan studi al-Qur’an merupakan salah satu pemaknaan dari istilah “al-Haq dan al-Batil”. Al-Haq untuk yang riil (nyata) dan al-bathil untuk ilusi. Al-Haq dan al-Batil adalah dua sisi kehidupan manusia yang saling bertolak belakang satu sama lain dan keduanya saling mengalahkan satu sama lain. Namun bukan menjadi sebab adanya kehidupan itu sendiri sebagaimana faham yang diusung oleh Darwinisme dan Marxisme dengan teori “dialektika”nya. Al-Haq dan al-Batil merupakan piranti kehidupan dunia yang merupakan batu ujian manusia. Jadi dalam istilah sederhannya, kehidupan itu adalah pertarungan al-Haq dan al-Batil. Dan pasti dalam kehidupan, seseorang berada dalam salah satu jalan dari keduanya apakah berada dalam jalan al-Haq atau jalan al-Batil.
Menurut sudut pandang teologis Islam, al-Haq mempresentasikan Allah Subhanahu wa Ta'ala. dan apa-apa yang datang dari sisi-Nya yakni al-Islam meliputi, wahyu, syari’at, ilmu, dll. Sedangkan al-Batil mempresentasikan selain Allah, terutama setan dan segala sesuatu yang datang dari padanya (syirik) juga meliputi wahyu, syari’at, ilmu. Hal ini salah satunya disebutkan dalam surat al-Hajj 22:62;
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
... yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah adalah al-Haq (yang nyata) dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah al- batil (yang ilusi), dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.(al-Hajj 22:62)
الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
Al-Haq (yang riil) itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.(al-Baqarah 2:147)
Dalam tinjauan yuridis formal (hukum), maka Al-Hakim tertinggi (al-Ahkamul haakimin), Allah Subhanahu wa Ta'ala menetapkan secara tegas bahwa al-Haq adalah “legal formal” diterima dan mendapat jaminan keamanan dan keselamatan sedangkan al-Batil adalah sesuatu yang “illegal” tertolak dan mendapat u’qubah (balasan buruk). Sebagaimana ditegaskan dalam surat Al-Anfal 8:7-8;
َيُرِيدُ اللّهُ أَن يُحِقَّ الحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ لِيُحِقَّ الْحَقَّ وَيُبْطِلَ الْبَاطِلَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ
…dan Allah menghendaki untuk menetapkankan al-Haq dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir, maka Allah menerima yang haq (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya. (al-Anfal:7-8)
Dalam ayat lain Allah memberi perumpamaan tentang kesia-sian perbuatan al-Batil dan kemanfaatan dari perbuatan al-Haq, sebagaimana tersebut dalam surat al-Ra’d 13:17,

أَنزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَداً رَّابِياً وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاء حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِّثْلُهُ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاء وَأَمَّا مَا يَنفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللّهُ الأَمْثَالَ
Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. Al-Ra’du 13 :17
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Malik dari Umar ibn Khattab; menyebutkan:
إن يد الله مع الجماعة والفذ مع الشيطان وإن الحق أصل في الجنة وإن الباطل أصل في النار
Sesungguhnya Tangan Allah itu ada pada jama’ah, sedangkan perpecahan bersama setan. Dan sesungguhnya al-Haq itu berasal dari syurga dan al-Batil berasal dari neraka.( H.R Imam Malik)
Maka niscaya al-Haq akan senantiasa mengungguli al-Batil meskipun besarnya al-Batil itu. Ibarat sebuah percikan api dari sebatang korek api yang mampu menghalau kegelapan dalam suatu ruangan yang besar. Dalam Al-Isra 17:81;
وَقُلْ جَاء الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقاً
Dan katakanlah: "Yang haq telah datang dan yang batil akan lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (al-Isra 17:81)
Menelusuri penyebutan lafadz al-Haq dalam al-Qur’an, kurang lebih 176 kali sedangkan lafadz al-Batil disebut tidak kurang 25 kali, maka kita akan mendapati pemahaman yang luas terhadap pemaknaan al-Haq dan al-Batil yang memiliki ekuvalensi makna dengan lafadz-lafadz lain, sebagaimana dalam tabel berikut;

al-Haq
Tabel Equvalensi pemaknaan al-Haq dan al-Batil
Dalam Al-Qur’an

No. Al-Haq Al-Batil Ayat Yang Berhubungan
1 Allah Subhanahu wa Ta'ala Setan (Berhala) al-Hajj 22:62
2 Islam Non-Islam al-Anfal 8:8
3 Iman Kufur al-Baqarah 2:42
4 Halal Haram Yunus 10:59
5 Benar Salah Saba' 34:49
6 Tauhid Syirk al-Imran 3:71
7 Sunnah Bid'ah al-Hasyr 59:7
8 Nikah Zina al-Isra' 17:32
9 Jual Beli Riba an-Nisa 4:29
10 Jujur Bohong an-Nahl 16:105
11 Yaqin Zhan (Prasangka) Yunus 10:66
12 Mu'jizat Sihir al-Isra' 17:101
13 Syari'at Islam Syari'at non-Islam al-Maidah 5:49
14 Ilmu Allah Ilmu Setan al-Mulk 67:29
15 Syukur Kufur an-Nahl 16:72
16 Al-Qur'an Syair/Undang-undang al-Kahfi 18:56
17 Hidayah Kesesatan al-Anbiya 21:18
18 Da'wah Islam Propaganda Setan al-Mukmin 40:5
19 dll dll


al-Batil
Dari tabel diatas, maka pemahaman tentang pertarungan al-Haq dan al-Batil akan semakin jelas, dan setiap orang pun dapat menentukan posisi jalan yang sebenarnya, apakah sedang ada pada jalan al-Haq atau jalan al-Batil. Karena sadar tidak sadar setiap orang tengah menjalani jalan itu masing-masing dengan cost yang dikeluarkan baik berbentuk; harta, jiwa ,tenaga, fikiran dll.
Setiap yang orang yang mengaku mu’min dan muslim yakin bahwa dia ingin dan akan memilih al-Haq dan menjauhi al-Batil, namun kalau tidak hati-hati terhadap tipu muslihat setan, malah yang dia pilih adalah al-Batil. Salah satunya pandangan kebanyakan manusia tentang ukuran nilai al-Haq dan al-Batil itu ditentukan kuantitas yang menyebut sesuatu itu haq atau dengan “suara terbanyak”. Dalam istilah-istilah lain seperti “suara rakyat adalah suara Tuhan”, “suara terbanyak itu adalah suara Tuhan”, “voting adalah kebenaran”, “demokrasi suara Tuhan” dll, itu merupakan fenomena keseharian dalam berbagai aktifitas. Dan melahirkan sikap “berbangga dengan mayoritas”. Padahal istilah-istilah tersebut merupakan dasar ajaran Yahudi Freemansonry untuk menyesatkan manusia. Maka karena kuatnya propaganda mereka, kebanyakan manusia tidak menyadarinya.
Dari surat al-Hajj 22:62 dan al-Baqarah 2:174 telah jelas bahwa Dialah Allah al-Haq, pemilik al-Haq, dan yang meneguhkan al-Haq, sekaligus memberikan jaminan atas al-Haq, dan sebaliknya, Allah-lah yang akan menghancurkan al-Batil, Dialah yang akan memberikan uqubah (balasan buruk) bagi pelaku kebatilan. Namun tidaklah bagi manusia yang telah digelincirkan oleh setan kedalam kesesatan berpandangan demikian, bahkan sebaliknya.
Manusia tidak memiliki otoritas untuk menentukan al-Haq dan al-Batil, hatta seluruh manusia bersepakat untuk menyatakan sesuatu itu al-Haq padahal hakekatnya adalah al-Batil. Al-Haq itu ajeg, sedikit pun tidak dipengaruhi oleh keinginan atau kebencian mahluk. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa Ta'ala memperingatkan kepada orang-orang yang beriman, agar senantiasa ajeg didalam keberpihakan terhadap al-Haq, tidak terpengaruhi oleh mayoritas yang tidak selamanya menjanjikan keberadaan al-Haq itu, malah terkadang mayoritas cenderung “mengelabui” kesadaran seseorang dalam mentukan al-Haq. Selain itu kesepakan “mayoritas” umumnya bertumpu pada zhan (praduga) ibarat gaung atau gema teriakan pada tebing yang curam, yang hakekatnya hanya satu teriakan tapi seolah-olah sangat banyak. Begitulah kira-kira gambaran kesepakatan “mayoritas”. Hal ini sebagimana tersirat dalam surat Al-An’am 6:116;
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُون
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka (zhan), dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).(Al-An’am 6:116)
Dalam ayat itu terdapat dua frasa yang keduanya saling menguatkan tentang bahayanya mengikuti “mayoritas” tanpa adanya alasan yang benar (berpijak pada al-Haq) , yaitu pertama “يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ” (menyesatkanmu dari jalan Allah) maksudnya menjauhkan dirimu dari al-Haq atau mendekatkan kamu kedalam al-Batil. Hal ini sebagimana disebutkan dalam ayat al-Zukhruf 43:78 dan al-Mu’minun 23:70;
لَقَدْ جِئْنَاكُم بِالْحَقِّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَكُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ
Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa al-Haq (kebenaran) kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada al-Haq (kebenaran) itu.( Al-Zukhruf 43:78)
أَمْ يَقُولُونَ بِهِ جِنَّةٌ بَلْ جَاءهُم بِالْحَقِّ وَأَكْثَرُهُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ
Atau (apakah patut) mereka berkata: "Padanya (Muhammad) ada penyakit gila." Sebenarnya dia telah membawa al-Haq (kebenaran) kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada al-Haq (kebenaran). (Al-Mu’minun 23:70)
Frasa yang kedua “يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ” (mengikuti prasangka) , maksudnya banyak manusia mengikuti petunjuk atau jalan yang tidak mencapai al-Haq yakni hanya praduga semata, sebagaimana disebutkan dalam surat Yunus 10:36;
وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلاَّ ظَنّاً إَنَّ الظَّنَّ لاَ يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئاً إِنَّ اللّهَ عَلَيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ
Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja (zhan). Sesungguhnya persangkaan itu (zhan) tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Yunus 10:36)
Lebihnya bahwa zhan itu berasal dari hembusan Iblis laknatullah yang ditujukan kepada manusia, dan iblis atas izin Allah mampu membuat fatamorgana “kebenaran” atas zhan itu sebagimana disebutkan dalam surat Saba 34:20;
َلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقاً مِّنَ الْمُؤْمِنِين
Dan sesungguhnya Iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman. (Saba 34:20)
Oleh karenanya sudah merupakan sunnatullah barang siap yang berpegang pada zhan dalam segala urusan maka kecelakaan dan malapetakan akan menimpa dirinya dan termasuk kedalam manusia yang merugi. Allah menegasnya dalam surat Al-Fushilat 41:23;
وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنتُم بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُم مِّنْ الْخَاسِرِينَ
Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Tuhanmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (Al-Fushilat 41:23).
Dari tinjauan surat al-An’am 116 diatas, maka jelas “kelompok yang kecil” yang ajeg dalam yaqin lebih utama dijadikan pegangan dalam al-Haq dari pada “kelompok besar” yang bertumpu pada “zhan”.
Dan tidak sedikit minoritas bisa mengalahkan mayoritas jika telah memenuhi syarat-syarat objektif kemenangan. Sebagaimana disebutkan dalam ayat;
يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُو اللّهِ كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللّهِ وَاللّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ
"Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah 2:249)
Tinggal apakah orang memilih al-Haq atau al-Batil, karena pada realitasnya mayoritas manusia adalah;

1. Orang-orang pembuat dosa (5:49)
2. Saling mencelakakan dan menyesatkan (5:77)
3. Tidak berakal (tertutup kesadarannya) (7:187)
4. Tidak berterimakasih (syukur) (10:60)
5. Lalai dari petunjuk Ilahi (10:92)
6. Tidak beriman (11:17)
7. Tidak mengetahui informasi yang benar (12:21)
8. Disesatkan oleh Kaum Pagan (14:36)
9. Kafir (17:89)
10. Atheis (30:8)
11. Penyembah berhala (71:24)
12. Calon Penghuni Neraka bersama mayoritas Jin (7:179)
13. Sekuler (30:8)
Jadi kalau sebuah negara dan pemerintahannya dijalankan berdasarkan suara mayoritas “demokrasi” maka apa jadinya? Maka jangan heran kalau;
1. Kejahatan dan manipulasi dalam segala bidang terus menjamur,
2. Penyelewengan dan pembodohan masyarakat,
3. Banyak orang yang tidak waras,
4. Banyak bencana akibat kekufuran,
5. Hanyut dan mengikuti propaganda menyesatkan,
6. Para penyembah berhala,
7. Sangat mencintai dunia dan menghalalkan segala cara,
8. Lebih takut kepada atasan dari pada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
9. dll !!!
Kalau begitu apakah anda mau bergabung bersama mereka ???? atau anda memilih menjadi bagian dari kelompok sedikit yang terakhir ?
فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ ثُلَّةٌ مِّنَ الْأَوَّلِينَ وَقَلِيلٌ مِّنَ الْآخِرِينَ
Berada dalam surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. (Al-Waqi’ah 56:12-14)
Tinggal anda yang menentukan pilihan, karena kesempatan tidak akan datang dua kali.
Wallahu’alam bissawab !

Konspirasi Dalam Perspektif Al-Quran

Makar atau konspirasi sebuah istilah yang sudah familiar pada umumnya orang. Merujuk kepada Ensiklopedia Hukum Islam terbitan PT Ichtiar Baru Van Hoeve, kata makar berasal dari bahasa Arab al-makr sama artinya dengan tipu daya/tipu muslihat atau rencana jahat. Secara semantik makar mengandung arti: akal busuk, perbuatan dengan maksud hendak menyerang orang, dan perbuatan menjatuhkan pemerintahan yang sah. Arti dan pengertian tersebut dikuatkan oleh beberapa ahli dari kaum cendikian muslim.
Perbuatan makar dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang didahului dengan konspirasi politik, mufakat jahat, dan intrik untuk mencapai tujuan politiknya. Dalam Alquran disebutkan beberapa ayat ayat tentang makar diantaranya yaitu: Surat Ali Imran (3) ayat 54; Al An'am (6) ayat 123; Al A'raf (7) ayat 99,123; Al Anfal (8) ayat 30; Yunus (10) ayat 21; Yusuf (12) ayat 31,102; Ar Ra'd (13) ayat 33, 42; Ibrahim (14) ayat 46, An Nahl (16) ayat 45,127; An Naml (27) ayat 50, 51, dan 70; As Saba (34) ayat 33; Fatir (35) ayat 10 dan 43; serta Nuh (71) ayat 22, yang semuanya mengandung pengertian bahwa makar adalah suatu perbuatan atau usaha untuk menentang atau membunuh seseorang yang tidak disenangi atau dianggap musuh/saingan, baik dalam hal agama maupun keduniawian dengan cara tipu daya, tipu muslihat, atau perbuatan lainnya yang bertentangan dengan agama Islam.
Kajian makar dalam perspektif Al-Qur'an, bukan saja memotret makar dalam kajian "tafsir" tentang ayat-ayat makar, tetapi lebih kepada sebuah telisik mendalam terhadap makar kafirin terhadap umat islam yang dipotret dari sisi ta'wil al-Qur'an sekaligus "menelanjangi" apa yang mereka perbuat. Hal ini setidaknya ada 2 alasan yang mendasar untuk dikaji;
1. Adanya benang merah antara makar yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam (kafir harbi) dengan datangnya kegoncangan dahsyat dibumi dan langit (al-saah) menjelang datangnya hari kiamat.
2. Adanya benang merah antara historis teologis (Adam vs Iblis) pertempuran al-Haq dan al-batil yang merupakan sunnatullah kehidupan dan fitnah (ujian bagi orang yang beriman).
Untuk yang pertama, ekplorasi terhadap makna saah dalam al-Qur'an beragam maksud (wujuhl ma'na) antara lain; waktu, saah, huru hara dahsyat, pintu saah, kegoncangan, kebangkitan. Semua memiliki maksud yakni sebagai inzar (peringatan) bagi orang yang beriman supaya mempersiapkan diri akan kedatangannya, karena dia merupakan fitnah yang terbesar yang dialami manusia khususnya bagi orang yang beriman.
Diantara ayat yang memiliki relevansi dengan makna huru-hara dahsyat menjelang terjadinya saah adalah Al-Hajj ayat 1
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ
Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya keguncangan saah itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).
Kegawatan pada saat terjadinya saah dilukiskan pada ayat seterusnya,(ayat ke-2)
(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras.
Mengenai datangnya saah Al-Qur'an menyebutkan telah dekat,tersurat al-Ahzab ayat 63,
يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّهِ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيباً
Manusia bertanya kepadamu tentang saah. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang saah itu hanya di sisi Allah". Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi saah itu sudah dekat waktunya.
Pada ayat diatas disebutkan "Sesungguhnya pengetahuan tentang saah itu hanya di sisi Allah" menunjukan bahwa kedatangan saah dapat diketahui oleh manusia berdasarkan " ilmu Allah" (al-Qur'an). Orang yang mengetahui ilmu Allah (al-Qur'an) adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sehingga ketika Nabi ditanya tentang waktu pas terjadinya saah, beliau merahasiakannya, tetapi tanda-tandanya beliau diantaranya;
قَالَ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا وَيَقِلَّ الرِّجَالُ وَيَكْثُرَ النِّسَاءُ حَتَّى يَكُونَ لِلْخَمْسِينَ امْرَأَةً الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ
Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah bersabda. "Sesungguhnya di antara tanda-tanda saah adalah ilmu diangkat, banyaknya kebodohan, banyaknya perzinahan, banyaknya orang yang minum khamr, sedikit kaum lelaki dan banyak kaum wanita, sampai pada 50 wanita hanya ada satu lelaki." (HR Bukhari)
Berikut tanda-tanda saah lain yang disebutkan dalam hadits Nabi;
1. Disia-siakannya amanat
Jabir r.a. berkata, tatkala Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berada dalam suatu majelis sedang berbicara dengan sahabat, maka datanglah orang Arab Badui dan berkata, "Kapan terjadi Saah ?" Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terus melanjutkan pembicaraannya. Sebagian sahabat berkata, "Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendengar apa yang ditanyakan tetapi tidak menyukai apa yang ditanyakannya." Berkata sebagian yang lain, "Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mendengar." Setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyelesaikan perkataannya, beliau bertanya, "Mana yang bertanya tentang Saah?" Berkata lelaki Badui itu, "Saya, wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam." Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Berkata, "Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah saah." Bertanya, "Bagaimana menyia-nyiakannya?" Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Menjawab, "Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saah." (HR Bukhari)
2. Penggembala menjadi kaya
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya oleh Jibril tentang tanda-tanda saah, lalu beliau menjawab, "Seorang budak melahirkan majikannya, dan engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang, dan miskin, penggembala binatang berlomba-lomba saling tinggi dalam bangunan." (HR Muslim)
3. Banyak terjadi pembunuhan
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, "Tiada akan terjadi saah, sehingga banyak terjadi haraj.. Sahabat bertanya apa itu haraj, ya Rasulullah?" Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Menjawab, "Haraj adalah pembunuhan, pembunuhan." (HR Muslim)
4. Banyak polisi dan pembela kezhaliman
"Di akhir zaman banyak polisi di pagi hari melakukan sesuatu yang dimurkai Allah, dan di sore hari melakukan sesutu yang dibenci Allah. Hati-hatilah engkau jangan sampai menjadi teman mereka." (HR At-Tabrani)
5. Perang antara Yahudi dan Umat Islam
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, "Tidak akan terjadi saah sehingga kaum muslimin berperang dengan yahudi. Maka kaum muslimin membunuh mereka sampai ada seorang yahudi bersembunyi di belakang batu-batuan dan pohon-pohonan. Dan berkatalah batu dan pohon, ‘Wahai muslim, wahai hamba Allah, ini yahudi di belakangku, kemari dan bunuhlah ia.' Kecuali pohon Gharqad karena ia adalah pohon Yahudi." (HR Muslim)
6. Dominannya Fitnah
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, "Tidak akan terjadi saah, sampai dominannya fitnah, banyaknya dusta dan berdekatannya pasar." (HR Ahmad).
7. Banyaknya kaum wanita
Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda. "Sesungguhnya di antara tanda-tanda saah adalah ilmu diangkat, banyaknya kebodohan, banyaknya perzinahan, banyaknya orang yang minum khamr, sedikit kaum lelaki dan banyak kaum wanita, sampai pada 50 wanita hanya ada satu lelaki." (HR Bukhari)
8. Bermewah-mewah dalam membangun masjid
Dari Anas ra. bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, "Diantara tanda saah adalah bahwa manusia saling membanggakan dalam keindahan masjid." (HR Ahmad, An-Nasa'i dan Ibnu Hibban)
9. Menyebarnya riba dan harta haram
Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, "Akan datang pada manusia suatu waktu, setiap orang tanpa kecuali akan makan riba, orang yang tidak makan langsung, pasti terkena debu-debunya." (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi)
10. Bertebarannya perkara yang subhat
Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, "Akan datang pada manusia suatu saat di mana seseorang tidak peduli dari mana hartanya didapat, apakah dari yang halal atau yang haram." (HR Ahmad dan Bukhari)
Sedangkan mengenai kejadiannya disebutkan dalam al-Qur'an , saah itu datang dengan tiba-tiba,
أَفَأَمِنُواْ أَن تَأْتِيَهُمْ غَاشِيَةٌ مِّنْ عَذَابِ اللّهِ أَوْ تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً وَهُمْ لاَ يَشْعُرُونَ
Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan saah kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya?
Ada dua kata kunci dari ayat tersebut mengenai terjadinya saah yaitu " secara tiba-tiba" dan "tanpa disadari" yang menjadi benang merah dengan makarnya kaum kuffar. Dalam artian kejadian saah adalah rekayasa atau makarnya orang-orang kafir.
Yang kedua, analisis terhadap ayat-ayat makar dan ayat /surat yang semakna semakna denganya (dengan teori munasabat ayat/surat) menunjukan bahwa dalam dimensi konteks, makar berada pada tataran deskriptif teologis dengan alur wacana naratif (ayat-ayat kisah) dimana perlakuan terhadap ayat-ayat tersebut tidak dengan tafsir tapi dengan ta'wil (mencari makna diluar teks). Oleh karenanya, sisi sebab-sebab pewahyuan (asbab-al-nuzul) tidak terlalu ditekankan. Ayat-ayat makar meniscayakan pembacaan teologis ,filosofis. Pada sisi ini konteks sosio cultural (makiyah-madaniyah) dan linguistic sangat berperan dalam mencari sesuatu yang tidak terkatakan (masku ‘anhu).
Secara deskriptif-naratif, makar disebutkan dalam kisah-kisah para nabi sebelum Nabi Muhammad, dimulai dari kisah Nabi Adam, Hud, luth, Musa dan yang lainnya. Dan semua kajian tentang makar terakumulasi pada satu kisah yang sempurna yakni Surat Yusuf surat ke-12 dalam al-Qur'an. Dalam kajian fenomenilogi Al-Qur'an angka ke-12 ini memiliki karakter-karekter tertentu ketika dihubungkan dengan jumlah ayatnya 111 ayat. Inilah yang disebutkan dalam surat yusuf ayat ke-7 dan ayat ke-111
لَّقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ لِّلسَّائِلِينَ
Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya. (Yusuf:7)
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُوْلِي الأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثاً يُفْتَرَى وَلَـكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS Yusuf:12:111)
Dalam arti yang sederhana, untuk memahami tentang makar, maka yang menjadi kunci adalah mendalami dan memahami ta'wil dari surat Yusuf. Dimana issue sentral dari kisah tersebut adalah pergulatan antara al-Haq dan al-Bathil yang menjadi sunatullah kehidupan manusia dialam dunia ini, yang disimbolkan pertama kali oleh Nabi Adam versus Iblis. Kelanjutannya adalah Nabi-nabi setelahnya dan manusia beriman versus setan baik yang berada diluar kesadaran (dunia material) yakni setan dari kelompok jin dan manusia atau yang berada dalam kesadaran manusia (hawa nafsu dan pemikiran jahat). Inilah yang disinyalir dalam surat al-An'am ayat ke-112
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نِبِيٍّ عَدُوّاً شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوراً وَلَوْ شَاء رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.(QS al-An'am 6:112)
Dalam ayat lain disebutkan bahwa menjadi sunatullah keberadaan makar itu akan terjadi pada setiap generasi orang beriman, tetapi yang terberat dialami adalah tatkala menjelang datangnya kiamat, karena bukan makar kuffar an sich yang menjadikan saah , tetapi ada yang lebih dahsyat dan besar yakni munculnya dajjal serta ja'juj wa ma'juj, dalam konteks yang baru bukan dalam konteks simbolik. Hanya orang yang berlindung kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan kesabaran yang dapat selamat dari bencana saah tersebut. Karena semua makar mereka berada pada kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
وَقَدْ مَكَرَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلِلّهِ الْمَكْرُ جَمِيعاً يَعْلَمُ مَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ وَسَيَعْلَمُ الْكُفَّارُ لِمَنْ عُقْبَى الدَّارِ
Dan sungguh orang-orang kafir yang sebelum mereka (kafir Mekah) telah mengadakan tipu daya, tetapi semua tipu daya itu adalah dalam kekuasaan Allah. Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap diri, dan orang-orang kafir akan mengetahui untuk siapa tempat kesudahan (yang baik) itu.(13:42)
وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلاَّ بِاللّهِ وَلاَ تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلاَ تَكُ فِي ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ
Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. (16:127)
Singkatnya dilihat dari dimensi makna, makar berada pada level signifikasi atau perluasan dari konteks sosio cultural dimana teks itu berada. Yang sudah barang tentu kontek makar pada jaman sekarang dipandang "gaib" dalam pandangan awam, tetapi tidak bagi kalangan ulul al-bab, karena menjadi sunnatullah bahwa perkara yang tersembunyi dalam al-Qur'an semuanya akan terkuak diahir jaman.
Berikut deskriptif kajian singkat mengenai kajian ayat-ayat makar;
A. Definisi makar
Makar secara etimologis berasal dari kata " مَكَرَ يَمْكُرُ مَكْرًا " beberapa pengertian makar yang dikemukakan oleh para pakar antara lain;
مكر: المَكْرُ: احتيال في خفية، والمَكْرُ: احتيال بغير ما يضمر، والاحتيال بغير ما يبدي هو الكيد
Makar adalah tipu daya yang tersembunyi, atau makar tipudaya dengan pelaku yang tersembunyi, sedangkan tipu daya yang terlihat disebut "kaid"
والمَكْرُ: ضرب من النبات
Makar adalah bagian/macam dari tumbuh-tumbuhan
والمَكْرُ: المغرة
Makar adalah menipu
المَكْرُ: الاحتيالُ والخديعةُ
Makar adalah tipudaya dan menipu
Makar dapat didefinisikan dengan "makar" adalah upaya/muslihat (tipu daya) tersembunyi (rahasia) seseorang atau sekelompok orang untuk menghancurkan musuhnya yang dirancang secara sistematik dan sistemik. Sedangkan "kaid" merupakan bagian dari " makar" yakni makar dalam bentuk yang terlihat.
Dari arti dan definisi tersebut, maka makar senantiasa berkonotasi jahat, serta dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk melakukan kepada lawannya atau musuhnya.
B. Jenis makar
Dilihat dari pelaku makar, makar terbagi dua macam yaitu, ;
1) makar "mahmudah" (tipudaya yang baik) yakni tipudaya tersembunyi untuk melawan atau menolak kejahatan,diantara ayat yang menyatakannya antara lain;
Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.(Ali Imran : 54)
Yang dimaksud makar Allah diantaranya adalah;
هو إرداف النعم مع المخالفة وإبقاء الحال مع سوء الأدب وإظهار الكرامات من غير جهد
" menyertakan kenikmatan dengan pembangkangan , melanggengkan suatu keadaan disertai dengan kejelekan prilaku, memberikan karomah tanpa ada upaya"
إمهال العبد وتمكينه من أعراض الدنيا،
"memberikan tangguh kepada manusia dan mengantarkannya kepada keinginan-keinginan duniawi"
إيقاع بلائه بأعدائه دون أوليائه
Menimpakan bencana kepada musuh-musihnya tanpa mengenai hamba-hamba-Nya
Maksud dari definisi tersebut adalah;
a. orang yang mendapat kenikmatan, namun kenikmatan tersebut tidak disertai dengan ketaatan kepada pemberi nikmat jelas adalah suatu perkara yang buruk, karena akan menjadikan lupa pada hakekat kehidupan dirinya, orang yang sudah lupa dirinya dia akan sesat dalam kehidupannya, itulah orang-orang merugi. Begitu juga segala sarana dan pasilitas baik harta, jabatan atau kekuasaan yang ada pada seseorang, namun keadaan orang tersebut jelek prikakunya, adalah suatu makar Allah yakni penangguhan terhadapnya akan datangnya suatu sikya yang sangat keras. Begitu pula orang dapat kebaikan-kebaikan duniawi tanpa usaha yang keras adalah bentuk makar, karena apa yang ia raih yang tanpa usaha keras itu sedikit pun tidak dapat member manfaat bagi kehidupan ahiratnnya.
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.(17:16)
b. Allah memberikan tangguh kepada para pelaku kejahatan akan siksan-Nya, bahkan senantiasa mereka mendapat segala perkara yang diinginkan didunia, semata-mata karena hal itu sebagai makar yakni mereka tertipu oleh apa yang mereka kerjakan.
Dan berapalah banyaknya kota yang Aku tangguhkan (adzab-Ku) kepadanya, yang penduduknya berbuat dzalim, kemudian Aku adzab mereka, dan hanya kepada-Ku lah kembalinya (segala sesuatu).(22:48)
c. Bencana /siksa yang amat pedih ketika ditimpakan kepada manusia jahat adalah suatu perkara yang berat, tetapi yang lebih berat lagi, tatakala mereka menyaksikan orang-orang yang beriman justeru selamat dari azab Allah. Karena apapun rencana jahat yang mereka lakukan terhadap orang beriman sepanjang tidak berada pada ma'syiah (kehendak) Allah, segalanya tidak akan memberi kemadharatan sedikit pun .Allah berkuasa penuh terhadap seluruh makarnya orang-orang kafir.
Dan sungguh orang-orang kafir yang sebelum mereka (kafir Mekah) telah mengadakan tipu daya, tetapi semua tipu daya itu adalah dalam kekuasaan Allah. Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap diri, dan orang-orang kafir akan mengetahui untuk siapa tempat kesudahan (yang baik) itu. (13:42)
2) makar "Madmumah" (tipudaya jahat) yakni tipudaya tersembunyi untuk menghancurkan atau menolak kebenaran (al-Haq) atau memalingkan dari jalan yang lurus
Diantara ayat yang menyatakannya antara lain;
dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. dan rencana jahat mereka akan hancur. (al-Fathit :10)
C. Pelaku Makar
1) Pelaku makar mahmudah
• (a) Makar Allah terhadap orang-orang kafir 10:21, 7:99, 27:50, 8:30, 86:16, 7:183
• (b) Makar Allah terhadap orang musyrik 6:37
• (c) Makar Allah terhadap orang munafiq 4:142
• (d) Makar Allah terhadap Nasrani/Yahudi, 3:54
• (e) Makar orang yang beriman terhadap orang kafir, 12:76, 21:57
• (f) Makar orang kafir terhadap orang kafir 7:123
Makar kaum kafirin terhadap kafirin lainnya dianggap makar baik, karena akan melemahkan kekuatan mereka, dan menguntungkan bagi kekuatan muslim. Sebagaimana terjadi pada perang ahzab, kaum ahzab di propokasi antar sesama, sehingga kekuatan mereka melemah dan perang ahzab dimenangkan oleh kaum muslimin.
Keadaan permusuhan mereka digambarkan dalam surat al-Hasr :14
Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti.(59:14)
2) Pelaku makar madzmumah
• (a) Makar setan terhadap manusia umumnya, 4:76,35:8
• (b) Makar jin terhadap manusia umumnya :6:116, 72:6
• (c) Makar jin terhadap kaum muslimin 7:17
• (d) Makar orang kafir terhadap Allah 77:39, 86:15,
• (e) Makar orang kafir terhadap para Rasul, 7:183, 20:60, 11:55, 37:98, 21:70, 22:15
• (f) Makar orang kafir terhadap orang beriman 27:50, 27:51, 6:123, 40:45, 16:26, 13:42, 105:2, 40:25, 3:120
• (g) Makar orang kafir terhadap kaum muslimin 35:10, 27:70, 6:124, 71:22, 14:46, 13:33, 8:30, 52:42, 52:46, 8:18
• (h) Makar orang kafir terhadap manusia lainnya 34:33
• (i) Makar orang musyrik terhadap kaum muslimin 35:43, 16:45, 16:127
• (g) Makar orang munafik terhadap kaum muslimin, 2:9
• (h) Makar orang munafik terhadap Allah 4:142
• (i) Makar ahli sihir terhadap Nabi, 20:69
• (j) Makar yahudi terhadap kaum muslimin 3:54
• (k) Makar Nasrani terhadap kaum muslimin 3:54
• (l) Makar penguasa/pemerintah terhadap nabi 40:37
• (m) Makar kaum muslimin terhadap kaum muslimin lainnya, 12:5
• (n) Makar manusia terhadap manusia lainnya, 12:31, 12:102, 12:52
• (o) Makar wanita terhadap kaum laki-laki 12:28, 12:33, 12:34, 12:50
D. Sebab-sebab makar
1. Atheis/anti Tuhan; 7:11.22, 43:36
2. Kemusyrikan 6:100
3. Godaan Setan; 4:119.120
4. Dorongan Hawa Nafsu jahat; 12:33
5. Kekuasaan 20:57,63
6. Harta :18:34
E. Media makar
1. Jin 6:128, 27:17, 34:12,13,72:6
2. Kekuasaan 40:37
3. Sihir 2:102, 7:111,112,113,115,116 10;79,80 20;57-71, 113:4
4. Teknologi 40;36,37
5. Seks 12:31
6. Makanan dan Minuman (12:36)
F. Tujuan Makar
1. Mengembalikan manusia kepada kekafiran (atheis) setelah tauhid; 4:89 7:16, 34;33
2. Penghancuran agama tauhid, 2:135,217,9:32
3. Penyembahan terhadap setan/Jin, 6:100, 4:117,34:41
4. Pemuasan hawa nafsu: 5:30, 6:119,12:32,53
5. Pemenuhan kekuasaan dan ekonomi 2:188 9:34
G. Cara makar
1. Penangkapan (penguasaan)/Kapitalisme,8:30,9:5,33:61
2. Pemenjaraan (marjinalisasi) 8:30, 12:25,32,26:29
3. Pembunuhan (dehumanisasi) 8;30, 2:61,85, 3:21, 4:157 5:27 6:137 7:127 12:9 29:24 40:26
4. Pengusiran (sekulerisasi) 8;30 2:85, 191 7:82 9:13 14:13 26:35,167 27:56
5. Penghancuran moral (demoralisasi) 12:51
6. Penyusupan (infiltrasi) 9:5
H. Bentuk makar Kaum Kafirin terhadap umat Islam
1. Merusak, menghancurkan, mengganti simbol-simbol agama 105:2
2. Menghina dan mempermainkan Al-Qur'an 86:15
3. Sekulerisasi (dunia orientied) 4:76
4. Penghinaan terhadap Rasulullah 3:120
5. Membuat dan menciptakan berhala 3:54
6. Menggunakan media sihir dan provokasi (isu jahat) 20:69
7. Membuat issue bahwa bencana disebabkan oleh berhala 11.55
8. Penculikan 12:5, 8:26
9. Porno aksi 12:28
10. Prostitusi 12:50
11. Menikam dari belakang 12:52
12. Korupsi 12:76
13. Mendirikan tempat/alat penyiksaan 37:98
14. Eksploitasi perempuan (al-Mukmin 25)
15. Dehumanisasi kaum laki-laki (al-Mukmin 25)
16. Pengusaan dunia antariksa (al-Mukmin 37)
17. Lempar batu sembunyi tangan (Al-Anbiya 57)
18. Ramalan-ramalan perkara gaib (at-Thur 42)
19. Bersekutu /PBB (Anfal 18)
20. Penyusupan ( Ali Imran 118)
21. Tindakan-tindakan jahat yang melampau batas-batas kemanusiaan (An-Nisa 76)
22. Degradasi Tauhid (Al-Hajj 15)
23. Penguasaan dunia informasi 22:15
I. Kapasitas makar kaum kafir
1. Dilakukan selama 24 jam 34:33
2. Kekuatan maksimal (full power) 14:46 27:50
3. Daya jelajah yang luas 71:22
4. Efek yang luas 27:51
5. Ditangani oleh para profesional 6:123
J. Bentuk makar Allah
1. Memberitahukan makarnya kaum kafir : 11:49 12:102
2. Menurunkan adzab, 35:10
3. Menurunkan pasukan langit 9:40
4. Memberikan kemenangan kepada hizbullah 3:126
5. Menjadikan petaka kepada pembuat makar 35:43
K. Kiat-kiat menghadapi makar kaum kafirin (kontra makar)
1. Tauhidullah/ ikhlas 15:39-40
2. Berpegang teguh kepada al-Qur'an dan as-Sunnah Rasul (3:103)
3. Bersabar dan shalat (2:45)
4. Bersatu padu (berjama'ah) (59:14)
5. Penguasaan IPTEK (27:40)
L. Yang melakukan kontra makar
1. Ahlul ilmi 19:43, 27:40, 29:43
2. Ahlu Dzikir 8:60
3. Mukhlisin (15:39-40)
Demikian persfektif umum makar/konpirasi dalam sudut al-Qur'an,
Wallahu'alam bi al-sawab !

Bill Gates berbicara tentang membunuh 0,9 milyar orang dengan perawatan kesehatan dan vaksin


Dengarkan sekitar 4 menit, 33 detik dalam klip video di bawah ini.
Bill Gates: "Pertama kita punya populasi. Sekarang dunia dihuni oleh 6,8 milyar orang. Dan angka tersebut menuju ke sekitar jumlah 9 milyar orang. Sekarang, jika kita melakukan pekerjaan yang sangat besar pada vaksin-vaksin baru, perawatan kesehatan, pelayanan kesehatan reproduksi , kami bisa menurunkan angkanya dengan, mungkin 10 atau 15 persen, tetapi kami melihat peningkatan sekitar 1,3."
Jadi Mr. Gates berbicara mengenai penurunanjumlah penduduk dunia sebanyak 0,9 milyar orang dengan mengubah sistem perawatan kesehatan dan memberikan vaksin kepada orang-orang?
Apakah itu masuk akal bagi Anda? Apa maksudnya? Apakah seseorang menanyakan apa yang dimaksud dengan itu? Siapa "kita" yang ia bicarakan? Dan siapa di antara 900.000.000 orang yang "mereka" ingin mengurangi /menghapus/membunuhnya?
Artikel terkait: Bill Gates bicara mengenai vaksin untuk mengurangi jumlah penduduk

Illuminati Menciptakan Negara Amerika Serikat Untuk Mempercepat Tata Dunia Baru


You blind guides. You strain out a gnat but swallow a camel! (Mathew 23:24)
Kebanyakan orang Amerika mengejek ketika disebut konspirasi padahal negara mereka diciptakan oleh Freemasonry namun mereka tidak punya petunjuk. Freemason merancang konstitusi dan menandatangani Deklarasi Kemerdekaan. Orang-orang Indian yang membuang teh di pelabuhan adalah Mason. Begitu pula Paul Revere dan minutemen, George Washington dan sebagian besar jenderal. Marquis de Lafayette ini dikecualikan sampai ia bergabung dengan Mason. Minimal 20 dari 42 Presiden Amerika Serikat adalah "Brothers."
minutemen, (sometimes lowercase) a member of a group of American militiamen just before and during the Revolutionary War who held themselves in readiness for instant military service.
Sumber: http://dictionary.reference.com/

George Washington, seorang Freemason
Freemasonry adalah Gereja Lucifer yang menyamar sebagai ordo persaudaraan mistik. Merupakan barisan terdepan Illuminati (Masonik Yahudi) para bankir bank sentral yang memulai Amerika Serikat dijadikan sebagai wahana untuk Tata Dunia Baru mereka.
Dalam kata-kata sesepuh Masonik, Manley P. Hall, "kita juga harus menyempurnakan tonggak rencana, mengatur kelengkapannya di sini untuk sebuah dunia persaudaraan bangsa-bangsa dan ras." ( ""The Secret Destiny of America," 1944.)
Freemason menawarkan cita-cita Amerika -- berupa kebebasan berbicara, kesempatan yang sama dan tidak ada pajak tanpa perwakilan - yang masih berlaku. Tapi rayuan mereka, baik untuk Masonik yang lebih rendah tingkatannya maupun untuk orang banyak, dirancang untuk memenangkan kekuasaan. Seperti Anda mungkin telah memperhatikan, janji-janji ini tidak sungguh-sungguh dipegang.
Kebanyakan sejarawan tidak akan memberitahukan kepada Anda mengenai semua ini. Dalam kata-kata Upton Sinclair: "Sulit untuk mendapatkan seorang pria untuk memahami sesuatu ketika pertimbangannya bergantung kepada ketidak pahaman mengenai hal itu."
Tetapi ada seorang sejarawan yang mengungkapkan kebenaran. Bernard Fay (1893-1978) adalah seorang Perancis berpendidikan Harvard. Ia dianggap sebagai "anti-Mason" karena bukunya yang berjudul "Revolution and Freemasonry: 1680-1800": yang diterbitkan tahun 1935 adalah merupakan salah satu dari sedikit yang mengungkapkan tingkat partisipasi Masonik dalam Revolusi di Amerika Serikat dan Revolusi Perancis. Dia memiliki akses ke arsip Masonik di Amerika Serikat dan Eropa. Sebenarnya buku tersebut menggambarkan simpatik kepada Freemasonry yang ditulis tanpa referensi kepada okult. Namun, sebagai seorang Vichy Perancis, ia kemudian membantu Nazi mendapatkan Mason selama Perang Dunia Kedua. Ia dipenjarakan setelah perang, tetapi diampuni pada tahun 1952 oleh Charles De Gaulle.
MASONIK AMERIKA
Fay menjelaskan bahwa pada tahun 1770-an, Amerika Serikat terdiri dari 13 koloni yang terisolasi dengan berbagai pemerintahan, afiliasi keagamaan, adat, sosial dan kelembagaan politik serta komposisi rasial. Pada waktu itu sebuah surat yang dikirim memakan waktu tiga minggu dari dari Georgia untuk sampai ke Massachusetts. Terjadi persaingan dan antagonisme yang kuat.
"Masonry sendiri berusaha untuk meletakkan landasan bagi persatuan nasional di Amerika karena [sebagai sebuah perkumpulan rahasia] bisa menyebar ke seluruh koloni dan bekerja dengan mantap dan dengan diam-diam. Perkumpulan tersebut dibuat dalam jumlah terbatas namun dengan para angota masyarakat terkemuka dari orang-orang yang mempunyai perasaan kesatuan Amerika, yang tanpa mereka ... di sana tidak akan ada Amerika Serikat. " (hal. 230)
"Pada tahun 1760 tidak ada kota, besar atau kecil, tempat di mana Masonry tidak bisa berkembang. Di mana-mana hanyalah khotbah persaudaraan dan persatuan." (230)
Benjamin Franklin, yang merupakan seorang Grand Master dari sebuah loji Perancis, waktu itu mengumpulkan jutaan Franc, uang tersebut penting sekali untuk membiayai pasukan George Washington. Dia adalah orang pertama yang mengajukan rencana konkret untuk sebuah kerjasama militer dan politik kepada Kongres Federal yang mewakili semua koloni. Ia mendirikan sebuah surat kabar di semua koloni sebagai mata rantai Masonik. Anda dapat membayangkan dari mana ia mendapatkan uang tersebut.
Fay mengatakan George Washington dan pasukan yang terdiri dari rakyat jelata terus menjaga semangat kemerdekaan tetap hidup. Ia mengatur banyak loji militer dan secara pribadi berpartisipasi dalam kegiatan mereka. Pada tanggal 27 Desember 1778 ia memimpin sebuah parade setelah Philadelphia direbut kembali:
"Dengan pedang bertengger di sampingnya, dengan pakaian lengkap Masonik, dihiasi dengan segala perhiasan dan lambang Persaudaraan, Washington berbaris di bagian depan sebuah prosesi khidmat dari 300 orang persaudaraan melalui jalan-jalan Philadelphia ke Christ Church, di mana sebuah acara Masonic Divine Service diadakan. Ini merupakan parade Masonik terbesar yang pernah terjadi di Dunia Baru. " (246)
"Semua perwira staf Washington yang dipercaya adalah kaum Mason, dan semua jendral yang memimpin pasukan adalah kaum Mason: Alexander Hamilton, John Marshall, James Madison, Jenderal Greene, Jenderal Lee, Jenderal Sullivan, Lord Stirling, dua orang Putnam (American soldier active in the French and Indian War and the Revolutionary War), Jenderal Steuben, Montgomery, Jackson, Gist, Henry Knox dan Ethan Allen adalah Mason. Mereka semua berkumpul di sekitar master Mason mereka, Washington dan mereka semua bertemu di 'Temple of Virtue', 'sebuah bangunan bersahaja yang membentuk empat persegi panjang dengan enam puluh meter, ketinggian satu lantai, sebuah pintu masuk yang diapit oleh dua pilar'.
"Monumen itu dibangun atas perintah oleh Kepala Staf Gabungan sebagai Balai Pertemuan untuk aktivitas loji. Suasana yang mengelilingi Washington adalah Masonik dan dapat dikatakan bahwa kerangka pikirannya Masonik." (hal. 250)
Fay menunjuk ke sesuatu yang "aneh" tingkat urutan atau hubungan antara kaum Mason di Amerika Serikat dengan tentara Inggris:
"Tampaknya bahkan mungkin bahwa kejadian yang terlupakan dan misterius yaitu kelonggaran beberapa serangan militer Inggris di Amerika, khususnya Howe bersaudara, memang disengaja dan karena keinginan Jenderal Inggris, seorang Masonik untuk mencapai penyelesaian damai ..." (251)
MENYERAHNYA CORNWALLIS
Dalam konteks ini, mungkin bijaksana untuk mengingat kembali pengakuan Jenderal Cornwallis ketika ia menyerah kepada Jenderal Washington di Yorktown (17 Oktober 1781.)
"Jonathan Williams mencatat dalam "Legions of Satan" 1781, bahwa Cornwallis mengungkapkan kepada Washington bahwa" perang suci sekarang akan mulai di Amerika, dan bila berakhir Amerika akan dianggap benteng kebebasan, tetapi jutaan orang lainnya tidak akan menyadari warga yang setia pada Kerajaan."
Cornwallis lalu menjelaskan apa yang tampaknya sebuah kontradiksi:
"Gereja-gereja Anda akan digunakan untuk mengajarkan agama Yahudi dan dalam waktu kurang dari dua ratus tahun seluruh bangsa akan bekerja untuk pemerintahan dunia yang agung. Bahwa pemerintah agung yang mereka yakini adalah Kerajaan Inggris. Semua agama akan dirembesi dengan agama Yahudi yang bahkan tanpa menjadi perhatian oleh orang banyak, dan mereka semua akan berada di bawah kendali all-seeing eye - si mata seribu (pent.) yang tidak nampak dari the Grand Architect of Freemasonry."
Senator Joseph McCarthy dalam pidato tahun 1956, melukiskannya dengan kata-kata:
"Cornwallis juga tahu betul bahwa kekalahan militer hanya merupakan awal bencana dunia yang akan menjadi universal dan bahwa kerusuhan akan terus berlangsung sampai pengendalian pikiran dapat dilakukan melalui agama palsu. Apa yang diperkirakan telah terjadi. Sebuah sketsa singkat sejarah keagamaan Amerika dan kita telah melihat Masonry merasuk ke dalam setiap gereja di Amerika dengan agama Phalik – phallic terselubung."
KESIMPULAN
Kita tidak dapat melihat persekongkolan Masonik Yahudi karena kita tidak terbiasa berpikir dalam kerangka ratusan tahun. Tetapi para bankir Illuminati telah memplot "tata dunia baru" (digambarkan pada uang dolar Amerka Serikat dengan ujung piramida Masonik yang terbuka) selama ribuan tahun.
Kita mungkin merasa senang dan merasa sakit menyaksikan desain mereka menjadi kenyataan. Seperti yang kita lakukan, penting untuk diingat bahwa orang-orang Amerika, dan pada kenyataannya semua orang, membiarkan dirinya ditipu.
Dalam kata-kata seorang pembicara dalam sebuah pertemuan rahasia B'nai Brith di Paris pada tahun 1936:
"Namun tetap merupakan rahasia kita bahwa orang-orang Goyim yang mengkhianati mereka sendiri dan kepentingannya yang paling berharga, dengan bergabung dengan kita dalam persekongkolan ini, harus tidak pernah mengetahui bahwa asosiasi ini adalah ciptaan kita dan bahwa sebenarnya mereka hanyalah melayani tujuan kita ...
"Salah satu dari banyak kemenangan Freemasonry kita, adalah bahwa orang-orang bukan Yahudi yang menjadi anggota Loji-loji kita, jangan pernah menduga bahwa sebenarnya kita memanfaatkan mereka untuk membangun penjaranya sendiri, yang di atas platform ini kita akan mendirikan takhta untuk Raja Universal Israel; dan seharusnya mereka tidak pernah tahu bahwa kita memerintah mereka untuk menempa sikap budak mereka yang merendahkan diri untuk masa depan Raja dunia kita."
Diterjemahkan oleh: akhirzaman.info
Sumber: http://www.henrymakow.com/

Orang-orang Yahudi Dibalik Skema Pelayanan Kesehatan Obama (The Jews Behind Obama's Health Care Scheme)





Kongres untuk mensosialisasikan obat kepada rakyat Amerika yang berkeberatan, tokoh di balik reformasi kesehatan ini adalah milyarder Yahudi, George Soros bergabung dengan orang-orang Yahudi yang bergerak di bidang medis, politik, dan akademisi profesional.
Dengan tas penuh uang yang tidak pernah habis – yang diperolehnya dengan cara membuat bangkrut ekonomi Amerika Serikat pada tahun 2008 dimana pada saat yang sama ia meraup milyaran meraup miliaran dolar - untuk mendukung prinsip apa pun yang pilih, Soros memiliki sarana untuk merekayasa nasib seluruh bangsa Amerika. Memang, Soros telah mengimplementasikan agenda globalnya baik di Georgia maupun di Kosovo.
Dikenal sebagai Obama “money man,”keterlibatan Soros dalam karir politik Obama mulai pada tahun 2005 dimana Soros sangat banyak memberikan kontribusi terhadap kampanye senator Obama dan berlanjut hingga tahun 2007 saat dimulainya kampanye kepresidenan Obama dengan operasi penggalangan dana yang besar.

Soros juga telah mengucurkan dana kepada Partai Demokrat dengan tujuan untuk mengumpulkan sekelompok orang anggota parlemen dengan kecenderungan sosialis.
"George Soros telah membeli Partai Demokrat," kata juru bicara Komite Nasional Partai Republik, Christine Iverson, "dan dia yang menentukan segalanya. - "
The piper calls the tune: The person who pays a musician can decide what music he wants to hear. And the person who pays for any service has the right to say exactly what he wants.
Sebagian besar dana Soros disalurkan kepada kelompok-kelompok sayap kiri radikal dalam rangka mengatasi berbagai masalah, dari pelayanan kesehatan yang didanai pemerintah sampai dengan mendirikan sebuah Amerika tanpa perbatasan dengan hak khusus untuk orang asing ilegal - semua usahanya dilakukan dalam rangka menumbangkan sebuah blok kekuatan Kristen kulit putih.
Sebagai orang yang mengkhianati bangsanya sendiri, dan sebagai informan Nazi di Hungaria, tidak mencegahnya untuk membunuh seluruh bangsa, meskipun ia tinggal dengan orang-orang yang menerimanya.

Membantu-Bunuh Diri, EUTHANSIA mensubsidi ABORSI, menjadi bagian dari visi Soros dalam rangka menasionalisasikan pelayanan medis, dana pengikat magnat awalnya berjumlah $15 juta untuk "membalikkan dominasi harga pasar dalam praktek kedokteran" ini adalah persis kata-kata Soros ketika berbicara kepada sekelompok dokter dan ahli bedah dalam pidatonya baru-baru ini di Universitas Columbia.
Soros menjajakan pengaruh keuangan dan politiknya melalui Institute On Medicine As A Profession, yang ia dirikan pada tahun 2003 dengan dana hibah sebesar $ 7,5 juta dari organisasi kelompoknya, The Open Society Institute, sebuah promotor utama reformasi pelayanan kesehatan.
Dalam Pernyataan Misi Institute On Medicine As A Profession Soros meminta dilakukannya pengaturan profesi medis secara terpusat.
"Jelas ada sebuah kebutuhan peraturan formal untuk industri kesehatan baik melalui negara bagian atau badan legislatif federal dan pemerintah" Lihat ceritera lengkapnya di sini
Seorang profesional Medis Yahudi mendudukan Soros pada Dewan Direksi dan staf pengajar pada Institute On Medicine As A Profession. Bersama-sama dengan Presiden Dewan Direksi, Dr David Rothman dan istrinya, Dr Sheila Rothman, (keduanya dari Universitas Columbia milik Yahudi), adalah Wendy MD Levinson dan beberapa orang dokter goyim yang dengan mudah digunakan sebagai kedok 'non-Yahudi'.
Bergabung dengan Institute On Medicine As A Profession milik Soros dua organisasi Yahudi yang didanai Soros mempromosikan "redistribusi kekayaan" dari UANG ORANG LAIN - bukan milik mereka. The Center For American Progress dan perusahaan induknya, The Democratic Alliance, adalah merupakan alat penting Soros dalam mendorong menarik kelas menengah Kristen kulit putih kedalam sebuah negara kesejahteraan Marxis.
PARA DEMONSTRAN DI IBUKOTA yang mendukung rencana reformasi pelayanan kesehatan Obama telah gagal menarik antusiasme rakyat Amerika, 60% diantaranya, menolak skema Obama untuk menasionalisasikan pelayanan medis mereka.
Rapat umum yang diselenggarakan oleh Health Care for America Now!, Sebuah “akar rumput” kampanye nasional dengan lebih dari 1.000 organisasi yang didedikasikan kepada dana pemerintah Amerika Serikat yang menjamin kesehatan bagi semua orang Amerika" Kelompok ini dikenal mempunyai “hubungan dekat” dengan Administrasi Obama dan Partai Demokrat.
Sebagian besar komponen organisasi Health Care for America Now! memiliki dua hal yang sama: mereka tidak memiliki keahlian dalam perawatan kesehatan dan merupakan hal yang jauh dari bagian "kampanye akar rumput" yang hampir semuanya menerima hibah berupa bebas pajak (tax-exempt grants) dengan jumlah besar dari milyarder radikal-kiri Yahudi, George Soros dan Mogul bankir investasi, Steve Gluckstern.

Para anggota terkemuka dari kelompok "akar rumput" komite pengarah adarah MoveOn.org, The Center for American Progress, and The Campaign for America’s Future - Pusat Kemajuan Amerika, dan Kampanye untuk Amerika di masa mendatang, yang semuanya diciptakan dengan uang Soros. Lihat Anggota Yang Lain, di sini.
Pendiri The Campaign for America’s Future - Kampanye untuk Masa Depan Amerika termasuk kolumnis the Washington Post, Harold Meyerson, enam puluhan agitator Tom Hayden, dan sosialis feminis, Barbara Ehrenreich - SEMUA orang Yahudi.
Setiap tahun, Kampanye untuk Masa Depan Amerika menyelenggarakan konferensi "Ambil Kembali Amerika - “Take Back America”, sebuah pertemuan para DC "progresif," (eufemisme untuk "Marxis"). Pada tahun 2006, pembicara terkemuka di konferensi tersebut termasuk Barack Obama, Nancy Pelosi, dan Senator Russ Feingold, semua pendukung disosialisasikannya obat pada saat itu. Lihat Seluruh Kisahnya, di sini, di sini dan di sini.
Koalisi kelompok ini, yang menyisipkan agenda Marxis tanpa diketahui pada kehidupan domestik Amerika, dikendalikan oleh penyerobot keuangan dan politik George Soros dan para pembantu Yahudi-nya. Apa tujuan mereka? Meredistribusikan kekayaan orang kulit putih Amerika'. Hasilnya? Total kontrol Yahudi dengan jalan menipu, melemahkan semangat dan kebangkrutan Goyim kulit putih dan negara mereka ...
Diterjemahkan oleh: akhirzaman.info
Sumber: http://www.realzionistnews.com/?p=489

Kartini Bukan "Pahlawan Jender"



TANGGAL 21 April bagi wanita Indonesia adalah hari yang khusus untuk memperingati perjuangan RA Kartini. Tapi sayangnya, peringatan tersebut sarat dengan simbol-simbol yang berlawanan dengan nilai yang diperjuangkan Kartini. Misalnya, penampilan perempuan berkebaya atau bersanggul, lomba masak, dan sebagainya yang merupakan simbol domestikisasi perempuan yang selalu digugat aktivis liberal-jender.
Suara emansipasi pun terasa lebih kuat pada bulan April karena Kartini dianggap sebagai pahlawan emansipasi wanita. Terlepas dari keterlibatan RA. Kartini sebagai pejuang dalam pemberdayaan perempuan di Indonesia, emansipasi sebenarnya diilhami dari gerakan feminisme di Barat.
Pada abad ke-19, muncul benih-benih yang dikenal dengan feminisme yang kemudian terhimpun dalam wadah Women's Liberation (Gerakan Pembebasan Wanita).
Gerakan yang berpusat di Amerika Serikat ini berupaya memperoleh kesamaan hak serta menghendaki adanya kemandirian dan kebebasan bagi perempuan. Pada tahun 1960, isu feminisme berkembang di AS. Tujuannya adalah menyadarkan kaum wanita bahwa pekerjaan yang dilakukan di sektor domestik (rumah tangga) merupakan hal yang tidak produktif.
Kemunculan isu ini karena diilhami oleh buku karya Betty Freidan berjudul The Feminine Mystiquue (1963). Freidan mengatakan bahwa peran tradisional wanita sebagai ibu rumah tangga adalah faktor utama penyebab wanita tidak berkembang kepribadiannya. Ide virus peradaban ini kemudian terus menginfeksi tubuh masyarakat dan 'getol' diperjuangkan oleh orang-orang feminis.
Gencarnya kampanye feminisme tidak hanya berpengaruh bagi masyarakat AS pada saat itu, tetapi juga di seluruh dunia. Munculnya tokoh-tokoh feminisme di negeri-negeri Islam seperti Fatima Mernissi (Maroko), Nafis Sadik (Pakistan), Taslima Nasreen (Bangladesh), Amina Wadud (Malaysia), Mazharul Haq Khan, serta beberapa tokoh dari Indonesia seperti Wardah Hafidz dan Myra Diarsi, kemudian beberapa gerakan perempuan penganjur feminisme, seperti Yayasan Kalyanamitra, Forum Indonesia untuk Perempuan dan Islam (FIPI), Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK), Yayasan Solidaritas Perempuan, dan sebagainya, setidaknya menjadi bukti bahwa gerakan ini pun cukup laku di dunia Islam.
Bahkan tak hanya dari kalangan wanita, dari kalangan pria juga mendukung gerakan ini seperti Asghar Ali Engineer, Didin Syafruddin, dan lain-lain.
Dalam perjuangannya, orang-orang feminis seringkali menuduh Islam sebagai penghambat tercapainya kesetaraan dan kemajuan kaum perempuan. Hal ini dilakukan secara terang-terangan maupun 'malu-malu'.
Yang menarik, tuduhan-tuduhan 'miring' itu tiba-tiba memasuki ranah hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan rumah tangga, seperti ketaatan istri terhadap suami, poligami dianggap sebagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dan menimbulkan potensi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Sementara itu peran domestik perempuan yang menempatkan perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, dianggap sebagai peran rendahan. Busana muslimah yang seharusnya digunakan untuk menutup aurat dengan memakai jilbab (Q.S Al-Ahzab:59) dan kerudung (Q.S An-Nur:31) dianggap mengungkung kebebasan berekspresi kaum perempuan. Lalu benarkah R.A Kartini dalam sejarahnya merupakan pahlawan emansipasi, sebagaimana yang diklaim oleh para pengusung ide feminis?
Andai Kartini Masih Hidup
Dalam buku Kartini yang fenomenal berjudul Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang), R.A Kartini saat itu menuliskan kegelisahan hatinya menyaksikan wanita Jawa yang terkungkung adat sedemikian rupa. Tujuan utama beliau menginginkan hak pendidikan untuk kaum wanita sama dengan laki-laki, tidak lebih. Ia begitu prihatin dengan budaya adat yang mengungkung kebebasan wanita untuk menuntut ilmu.
Kartini memiliki cita-cita yang luhur pada saat itu, yaitu mengubah masyarakat, khususnya kaum perempuan yang tidak memperoleh hak pendidikan. Juga untuk melepaskan diri dari hukum yang tidak adil dan paham-paham materialisme, untuk kemudian beralih ke keadaan ketika kaum perempuan mendapatkan akses untuk mendapatkan hak dan dalam menjalankan kewajibannya.
Ini sebagaimana terlihat dalam tulisan Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya pada 4 oktober 1902, yang isinya berbunyi;
"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama."
Menurut Kartini, ilmu yang diperoleh para wanita melalui pendidikan ini sebagai bekal mendidik anak-anak kelak agar menjadi generasi berkualitas. Bukankah anak yang dibesarkan dari ibu yang berpendidikan akan sangat berbeda kualitasnya dengan mereka yang dibesarkan secara asal? Inilah yang berusaha diperjuangkan Kartini saat itu.
Dalam buku tersebut Kartini adalah sosok yang berani menentang adat-istiadat yang kuat di lingkungannya. Dia menganggap setiap manusia sederajat sehingga tidak seharusnya adat-istiadat membedakan berdasarkan asal-usul keturunannya. Memang, pada awalnya Kartini begitu mengagungkan kehidupan liberal di Eropa yang tidak dibatasi tradisi sebagaimana di Jawa. Namun, setelah sedikit mengenal Islam, pemikiran Kartini pun berubah, yakni ingin menjadikan Islam sebagai landasan dalam pemikirannya. Kita dapat menyimak pada komentar Kartini ketika bertanya pada gurunya, Kiai Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat Semarang, sebagai berikut:
"Kiai, selama kehidupanku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan bualan rasa syukur hatiku kepada Allah. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa para ulama saat ini melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa? Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?"
Demikian juga dalam surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902 yang isinya memuat, "Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai."
Selain itu Kartini mengkritik peradaban masyarakat Eropa dan menyebutnya sebagai kehidupan yang tidak layak disebut sebagai peradaban, bahkan ia sangat membenci Barat. Hal ini diindikasikan dari surat Kartini kepada Abendanon, 27 Oktober 1902 yang isinya berbunyi, "Sudah lewat masamu, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik sesuatu yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban?"
Selanjutnya di tahun-tahun terakhir sebelum wafat ia menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bergolak di dalam pemikirannya. Ia mencoba mendalami ajaran yang dianutnya, yaitu Islam. Pada saat Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya dan mengkaji isi Al-Qur'an melalui terjemahan bahasa Jawa, Kartini terinspirasi dengan firman Allah SWT (yang artinya), "...mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman) (QS al-Baqarah [2]: 257)," yang diistilahkan Armyn Pane dalam tulisannya dengan, "Habis Gelap Terbitlah Terang."
Demikianlah, Kartini adalah sosok yang mengajak setiap perempuan memegang teguh ajaran agamanya dan meninggalkan ide kebebasan yang menjauhkan perempuan dari fitrahnya. Beberapa surat Kartini di atas setidaknya menunjukan bahwa Kartini berjuang dalam kerangka mengubah keadaan perempuan pada saat itu agar dapat mendapatkan haknya, di antaranya menuntut pendidikan dan pengajaran untuk kaum perempuan yang juga merupakan kewajibannya dalam Islam, bukan berjuang menuntut kesetaraan (emansipasi) antara perempuan dan pria sebagaimana yang diklaim oleh para pengusung ide feminis. Kini jelas apa yang diperjuangkan aktivis jender dengan mendorong perempuan meraih kebebasan dan meninggalkan rumah tangganya bukanlah perjuangan Kartini.
Feminisme untuk Menipu
Sejarah Kartini telah disalahgunakan sesuai dengan kepentingan mereka. Kaum Muslim telah dijauhkan dari Islam dengan dalih kebebasan, keadilan, dan kesetaraan jender.
Refleksi perjuangan Kartini saat ini sangat disayangkan karena banyak disalahartikan oleh wanita-wanita Indonesia dan telah dimanfaatkan oleh pejuang-pejuang feminisme untuk menipu para wanita, agar mereka beranggapan bahwa perjuangan feminisme memiliki akar di negerinya sendiri, yaitu perjuangan Kartini. Mereka berusaha menyaingi laki-laki dalam berbagai hal, yang kadangkala sampai di luar batas kodrat sebagai wanita. Tanpa disadari, wanita-wanita Indonesia telah diarahkan kepada perjuangan feminisme dengan membawa ide-ide sistem kapitalisme yang pada akhirnya merendahkan dan menghinakan derajat wanita itu sendiri.
Sistem kapitalisme sejatinya telah menghancurkan kehidupan manusia, termasuk kaum hawa (perempuan). Akibat diterapkan sistem kapitalisme, terjadi himpitan ekonomi sehingga tidak sedikit perempuan lebih rela meninggalkan suami dan anaknya untuk menjadi TKW, misalnya, meskipun nyawa taruhannya. Ribuan kasus kekerasan terhadap mereka terjadi. Mereka disiksa oleh majikan hingga pulang dalam keadaan cacat badan, bahkan di antaranya ada yang akhirnya menemui ajal di negeri orang. Sebagaimana yang dialami derita seorang TKW asal Palu, Susanti (24 tahun), yang kini tak bisa lagi berjalan karena disiksa majikannya (Liputan6.com, 9/3/2010).
Maraknya perdagangan perempuan dan anak-anak (trafficking) pun terjadi. Pada Desember 2009 ditemukan 1.300 kasus perdagangan manusia dan pengiriman tenaga kerja ilegal dari Nusa Tenggara Timur (Vivanews.com, 15/12/2009). Sekitar 10.484 wanita yang berada di Kota Tasikmalaya Jawa Barat rawan dijadikan korban trafficking. Pasalnya, mayoritas di antara mereka berstatus janda serta berasal dari kalangan yang rawan sosial dengan taraf ekonomi rendah (Seputar-indonesia.com, 1/4/2010).
Di Kabupaten Cianjur Jawa Barat kasus trafficking dan KDRT tercatat 548 kasus. Tidak sedikit dari mereka menjadi korban dan dipekerjakan sebagai pekerja seks komersil (PSK) (Pikiranrakyat.com, 23/3/2010). Fakta-fakta tersebut setidaknya memberikan gambaran kepada kita bahwa sistem kapitalisme telah gagal dalam memuliakan wanita.
Habis Gelap Terbitlah Islam
Upaya meneladani perjuangkan Kartini seharusnya bukanlah kembali pada ide-ide feminis dengan membawa ide kapitalisme yang absurd, melainkan kembali pada sistem syariah Islam (ideologi Islam), yang dalam rentang masa kepemimpinannya selama 13 Abad mampu memposisikan wanita pada kedudukannya yang teramat mulia, maka wajar bila desas desus diskriminasi perempuan ketika diterapkan ideologi Islam tidak pernah terdengar.
Di muka bumi ini laki-laki maupun perempuan diposisikan setara. Derajat mereka ditentukan bukan oleh jenis kelamin, tetapi oleh iman dan amal saleh masing-masing. Sebagai pasangan hidup, laki-laki diibaratkan seperti pakaian bagi perempuan, dan begitu pula sebaliknya. Namun dalam kehidupan rumah-tangga, masing-masing mempunyai peran tersendiri dan tanggung-jawab berbeda, seperti lazimnya hubungan antarmanusia.
Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, laki-laki dan perempuan dituntut untuk berperan dan berpartisipasi secara aktif, melaksanakan amar ma'ruf dan nahi munkar serta berlomba-lomba dalam kebaikan.
"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah. laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." Demikian firman Allah dalam al-Qur'an (Q.S al-Ahzab: 35).
Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan bahwa sesungguhnya perempuan itu saudara laki-laki (an-nisâ' syaqâ'iqu r-rijâl) (HR Abu Dâwud dan an-Nasâ'i).
Meskipun di kalangan muslim pada kenyataannya masih selalu dijumpai diskriminasi terhadap perempuan, namun yang mesti dikoreksi adalah sistemnya, bukan agamanya. Di tanah kelahirannya sendiri, gerakan feminis dan kesetaraan gender masih belum bisa menghapuskan sama sekali berbagai bentuk pelecehan, penindasan, dan kekerasan terhadap perempuan. Maka sekarang sudah saatnya baik laki-laki dan perempuan berjuang untuk mengganti sistem kapitalisme sekuler dengan sistem Islam, yakni dengan menerapkan sistem syariah Islam secara kaffah dalam wadah khilafah Islamiyah sebagai wujud ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Karena hanya dengan sistem syariah Islam saja wanita dimuliakan. Karena itu harusnya, semboyan Kartini di masa lalu, harus lebih maju kita tingkatkan; dari "Habis Gelap, Terbitlah Terang" menjadi "Habis Gelap Terbitlah Islam."[www.hidayatullah.com]